Contoh KTI Asuhan Keperawatan Pada Ny. R dengan Demam Tifoid

Kali ini saya bemaksud untuk memeberikan contoh Asuhan Keperawata Pada Ny. R dengan Demam Tifoid, dan ini adalah salah satu tugas Akhir Teman saya yang diminta oleh teman saya untuk di publikasikan dan semoga dapat di lihat serta bermanfaat untuk pembaca.
Seleblumnya saya sudah membagikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar belakang
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam tifoid di seluruh dunia mencapai 16-33 juta penderita, dengan 500.000 hingga 600.000 kematin tiap tahunnya. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun dewasa anak merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa (Nita, 2008)
Salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang banyak dijumpai di berbagai belahan dunia hingga saat ini adalah demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi di Indonesia, demam tifoid lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah penyakit tifus. Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus diseluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa pertahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar diberbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus (80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun 91% kasus ( Hendarta, S, D, 2011 ).
Kasus penderita demam tiphus atau tifoid di Indonesia grafiknya terus meningkat. Setiap tahunnya sekitar 50.000 orang meninggal dari jumlah penderita tifoid antara 350-810 orang per 100.000 populasi penduduk Indonesia (Widodo, D, 2011).
Riset kesehatan dasar (2007) memgungkapkan bahwa persentase penderita Tifoid di Indonesia sebesar 1,60%. Untuk daerah Nanggroe Aceh Darussalam penderita tifoid mencapai angka persentase 2,96%, angka tersebut menunjukkan bahwa penderita tifoid di Nanggroe Aceh Darussalam diatas angka Nasional, hal ini menunjukkan bahwa penderita tifoid di Nanggroe Aceh Darussalam masih termasuk kedalam kategori penyakit menular yang persenstasenya relative tinggi.
Berdasarkan data yang diambil dari catatan medical record pada Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh Utara diketahui bahwa klien yang dirawat sejak bulan Juni 2010 sampai dengan Mei 2011 sebanyak 10.988 orang dan diantaranya sebanyak 434( 3,94%) orang penderita demam tifoid, dan dari bulan juni 2011 sampai dengan Mei 2012 sebanyak 12.028 klien yang di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh Utara dan diantaranya sebanyak 490(4,07) orang penderita demam tifoid. Dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan penderita demam tifoid Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh Utara antara Juni 2010 sampai dengan Mei 2011 dengan Juni 2011 sampai dengan april 2012.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan terlihat adanya peningkatan persentase penderita demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia. Maka penulis tertarik untuk menerapkan asuhan keperawatan yang penulis wujudkan dalam bentuk karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny.R DENGAN DEMAM TIFOID DI RUANG PERAWATAN WANITA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CUT MEUTIA ACEH UTARA”.
B.  Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran yang nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan Pada Klien Ny.R dengan demam Tifoid dengan melalui pendekatan proses keperawatan.
2.    Tujuan Khusus
a.    Dapat melakukan pengkajian secara komprehensif Pada Klien Ny.R dengan demam tifoid.
b.    Dapat menentukan dan mengidentifikasi masalah serta menentukan diagnosa keperawatan baik aktual, resiko dan potensial yang akan muncul pada klien Ny.R dengan demam tifoid.
c.    Dapat merumuskan perencanaan asuhan keperawatan pada klien Ny.R dengan demam tifoid.
d.   Dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana asuahan keperawatan yang telah direncanakan.
e.    Dapat melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
f.     Dapat mendokumentasikan tahap-tahap proses keperawatan.
C.      Metode penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu menguraikan data secara nyata dan objektif dengan cara mengumpulkan data, menganalisa data, mendiagnosa masalah, memecahkan masalah dan mengevaluasi masalah yang telah diatasi. metode ini dilakukan penulis meliputi:
1.         Study kepustakaan (Library research)
Study kepustakaan ini dilakukan dengan cara mempelajari dan memahami literatur-literatur yang bersifat teoritis berdasarkan pendapat ahli yang ada kaitannya dengan judul yang penulis bahas
2.         Study kasus (Field research)
Dalam kasus ini penulis langsung mengamati, mempelajari, dan melaksanakan asuhan keperawatan terhadap Klien Ny.R Dengan Demam tifoid dengan diruang perawatan Wanita Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh Utara, dengan cara :
a.    Wawancara
Mengadakan wawancara baik secara auto anamneses maupun allowanamnese pada klien, keluarga, perawat ruangan dan tenaga medis lainnya yang ikut berpartisipasi dalam proses perawatan pada klien.
b.    Pengamatan
Pengamatan terhadap pelaksanaan keperawatan Pada Klien Ny.R Dengan demam tifoid dengan selama dirawat.
c.    Pemeriksaan fisik dan penunjang
Pada tahap pengkajian dilakukan pemeriksaan fisik yang mengacu pada format pengkajian sesuai standart akademik, sedangkan untuk mendapatkan data pemeriksaan penunjang berupa hasil pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen, penulis menggunakan catatan yang ada dalam status klien.
d.   Dokumentasi
Pendokumentasian setiap tahap dari proses keperawatan yang dilakukan dalam melaksanakan asuhan keperawatan menggunakan format sesuai standart akademik dalam karya tulis ini.
D.      Sitematika penulisan
Karya tulis ini penulis susun secara sistematis dalam 5 bab sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan, bab ini terdiri dari latar belakang masalah, tujuan
penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan teoristis, bab ini menjelaskan tentang kosep dasar
meliputi pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologis, penatalaksanaan, komplikasi, serta asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan asuhan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi.
Bab III : Tinjauan kasus, bab ini menjelaskan tentang pelaksanaan
asuhan keperawatan Pada Klien Ny.R Dengan Demam tifoid dengan diruang perawatan Wanita Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh Utara.
Bab IV : Pembahasan, berisi penjelasan tentang kesenjangan antara
teori dan fakta.
Bab V : Penutup, merumuskan kesimpulan dan saran - saran yang
dianggap relavan dalam rangka pemecahan masalah.
Pada akhir karya tulis ini penulis mencantumkan juga daftar pustaka, biodata dan surat izin pengambilan kasus.



BAB II
TINJAUAN TEORISTIS
A.  Konsep dasar
1.    Pengertian
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran (Mansjoer, A, 2000. Hal 432).
Demam tifoid (enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran (Nursalam, 2005. Hal 152).
2.    Etiologi
Menurut Mansjoer, A (2000. Hal 432) demam tifoid disebabkan oleh salmonella typhi, basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurangnya empat macam antigen, yaitu antigen O (somatik), H (flagella), Vi, dan protein membran hialin.
3.    Patofisiologis
Menurut Nursalam (2005, hal:153) mekanisme masuknya kuman diawali dengan infeksi yang terjadi pada saluran pencernaa. basil diserap diusus halus melalui pembuluh limfe lalu masuk kedalam peredaran darah sampai diorgan-organ lain, terutama hati dan limpa. basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai dengan rasa nyeri diperabaan. Kemudian basil masuk kembali kedalam darah (bakteriemia) dan menyebar keseluruh tubuh terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus; sehingga menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa diatas plak nyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perferasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksit, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.
4.    Manifestasi klinis
Inkubasi terjadi selama 10 sampai 14 hari. Demam naik secara bertahap, nyeri kepala, malaise, dan kadang kadang batuk. Gejala abdomen (nyeri, diare, atau konstipasi) jelas terlihat pada minggu pertama. Sedangkan diare, hepatosplenomengali ringan, dan roseola (rose spots) (60%) muncul pad minggu kedua. Syok, gangguan ginjal, dan perubahan status mental, termasuk koma, muncul pada kasus-kasus berat (Davey, P. 2005. Hal 298).
5.    Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer, A (2000. Hal 433) penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut:
a.       Tirah baring total selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya berdiri dan berjalan.
b.      Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh mengandug banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.
c.       Obat terpilih adalah kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari. dosis maksimal kloramfenikol 2 g/hari Kloramfenikol tidak boleh diberikan bila jumlah leukosit kurang dari 2000/ul. Bila pasien alergi dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol.
6.    Komplikasi
Menurut Davey, P. (2005. Hal 298) komplikasi yang timbul pada klien penderita demam tifoid adalah :
a.       Perforasi atau perdarahan dari ileum
b.      Osteomielitis, lebih umum ditemukan pada penyakit sel sabit.
c.       Kolesistitis.
d.      Miokarditis.
B.  Asuhan Keperawatan
Menurut Doengoes (2000, Hal 473-485) adapun pengkajian, diagnosa keperawatan dan perencanaan pada klien dengan Demam Tifoid adalah sebagai berikut :
1.    Pengkajian
a.    Aktivitas /Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise cepat lelah. Perasaan gelisah dan ansietas. Pembatasan aktivitas/kerja sehubungan dengan proses penyakit.
b.   Integritas Ego
Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal, perasaan tak berdaya/tak ada harapan. Faktor stres akut/kronis, mis. hubungan keluarga/pekerjaan, pengobatan yang mahal. Faktor budaya- peningkatan prevalensi pada populasi Yahudi, sering meningkat pada individu Eropa Utara dan keturunan Anglo-Saxon. Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi.
c.    Eliminasi
Gejala : Episode diare yang tak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering, tak terkontrol, flatus lembut dan semi cair, bau busuk dan berlemak (steatorea), melena. Konstipasi hilang timbul.
d.   Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah. Penurunan berat badan. Tak toleran pada diet/sensitif mis. produk susu, makanan berlemak. Tanda : Penurunan lemak subkutan/massa otot. Kelemahan, tonus otot buruk dan turgor kulit buruk. Membran mukosa pucat.
e.    Higiene
Tanda : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri. Bau badan.
f.     Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan abdomen dengan nyeri kram pada kuadran kanan bawah, nyeri abdomen tengah bawah (keterlibatan jejunum). Nyeri tekan menyebar ke bagian periumbilikal. Titik nyeri berpindah, nyeri tekan (artritis). Nyeri mata, fotofobia (iritis). Tanda : Nyeri tekan abdomen/distensi.


g.    Keamanan
Gejala : Riwayat lupus eritematosus, anemia hemolitik, vaskulitis. Artritis (memperburuk gejala dengan eksaserbasi penyakit usus). Peningkatan suhu 39,6-400C (eksaserbasi akut). Penglihatan kabur. Alergi terhadap makanan/produk susu (mengeluarkan histamin kedalam usus dan mempunyai efek inflamasi). Tanda : Lesi kulit mungkin ada, mis. eritema nodusum (meningkat, nyeri tekan, kemerahan, dan membengkak) pada tangan, muka, pioderma gangrenosa (lesi akan purulen/lepuh dengan batas keunguan) pada paha kaki, dan mata kaki. Ankilosa spondilitis. Uveitis, konjungtivitis/iritis.
h.   Interaksi Sosial
Gejala : Masalah berhubungan/peran sehubungan dengan kondisi. Ketidakmampuan aktif secara sosial.
i.      Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga berpenyakit inflamasi usus. Pertimbangan Rencana Pemulangan : Bantuan dalam program diet, program obat, dukungan psikologis.
j.     Prioritas Keperawatan
Mengontrol diare/meningkatkan fungsi usus optimal, Meminimalkan/mencegah komplikasi, Meminimalkan stres mental/emosi, Memberikan informasi tentang proses penyakit, kebutuhan pengobatan, dan aspek jangka panjang/potensial komplikasi berulangnya penyakit.
k.   Tujuan Pemulangan
1.    Fungsi usus stabil.
2.    Komplikasi dicegah/dikontrol.
3.    Menerima kondisi dengan positif.
4.    Proses penyakit/prognosis, program terapi, dan potensial komplikasi dipahami.
2.    Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan kilen demam Tifoidyang dapat dirumuskan menurut Doengoes (2000, Hal 473-485) sebagai berikut :
a.    Nyeri kronis yang berhubungan dengan proses inflamasi usus.
b.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan pembatasan diet, mual, diare, dan kram abdomen berhubungan dengan makan atau nyeri ulkus membrane mukosa mulut.
c.    Diare yang berhubungan dengan proses inflamasi usus.
d.   Risiko tinggi terhadap inefektif koping yang berhubungan dengan sifat kronis dari kondisi dan kurang tindakan definitif.
3.    Perencanaan Keperawatan
1.    Nyeri kronis yang berhubungan dengan proses inflamasi usus.
Tujuan : Nyeri berkurang. Kriteria Hasil : Menyebutkan perbaikan nyeri dan meningkatkan kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Intervensi/Rasional
Ketahui nyeri klien. Rasional : dengan mengetahui dan memvalidasi nyeri klien dapat membantu mengurangi ansietas klien, yang dapat menurunkan menurunkan nyeri. Minta klien menetapkan 1 sampai kala 5 (1 = tidak nyeri, 5 = nyeri hebat), dan tingkat toleransi nyerinya (1 = dapat mentoleransi, 5 = tak dapat mentoleransi sama sekali). Rasional : penentuan skala tersebut memberikan metode yang baik untuk evaluasi pengalaman nyeri subjektif. Tentukan hubungan antara makan dan minum serta nyeri abdomen. Rasional : Klien dapat menghubungkan makan atau minum dengan awitan nyeri abdomen, dan dapat membatasi masukan untuk menghindari nyeri. Tetapkan hubungan antara pasase feses atau flatus dan nyeri mereda. Rasional : Nyeri tidak hilang dengan pasase feses atau flatus mungkin tanda obstruksi usus atau peritonitis. Tetapkan efek nyeri kronis terhadap gaya hidup klien. Rasional : Nyeri kronis dapat menyebabkan menarik diri, depresi, marah dan ketergantungan. Tetapkan apakah nyeri terjadi selama malam hari atau tidak. Rasional : Kram abdomen atau keinginan tiba-tiba BAB dapat membangunkan klien di malam hari atau tidak. Rasional : Kram abdomen atau keinginan tiba-tiba BAB dapat membangunkan klien di malam hari. Kondisi ini jarang pada penyakit Crohn’s dibanding kolitis ulseratif. Berikan penghilang nyeri. Rasional : Pengusaha posisi dapat membantu menggerakkan udara dalam usus, menghilangkan kram.
2.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan pembatasan diet, mual, diare, dan kram abdomen berhubungan dengan makan atau nyeri ulkus membrane mukosa mulut.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi. Kriteria Hasil : Menunjukkan perubahan prilaku pola hidup untuk meningkatkan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas malnutrisi.
Intervensi/Rasional
Berikan nutrisi parenteral total (NPT), sesuai pesanan. Rasional : NPT adalah tindakan pilihan bila terjadi penurunan berat badan, kekurangan nutrisi dan gejala PIU berat. Pertahankan status puasa. Rasional : Status puasa menurunkan aktivitas. Berikan dukungan psikologis dan keyakinan pengistirahatan usus. Rasional : Status puasa yang lama mengganggu baik secara sosial maupun psikologis. Bantu klien untuk ambulasi dengan tiang intravena. Rasional : Ambulasi meningkatkan rasa sejahtera klien dan membantu mempertahankan atau memeperbaiki kondisi fisik.
3.    Diare yang berhubungan dengan proses inflamasi usus.
Tujuan : Melaporkan penurunan frekuwensi defekasi konsistensi kembali normal. Kriteria Hasil : Mengidentifikasi/menghindari faktor pemberat.
Intervensi/Rasional
Kaji penurunan jumlah feses, peningkatan konsistensi feses, penurunan urgensi BAB. Rasional : Pengkajian feses membantu mengevaluasi efektifitas agen antidiare dan pembatasan diet. Pertahankan lingkungan bebas bau untuk klien, pispot kosongkan dengan segera, ganti linen yang bersih, berikan pengharum ruangan. Rasional : bau fekal dapat menyebabkan rasa malu dan kesadaran diri dan dapat meningkatkan stres hidup dengan PIU. Lakukan perawatan perineal yang baik. Rasional : Iritasi perineal karena sering BAB berair harus dicegah. Turunkan aktivitas fisik selama episode diare. Rasional : Penurunan aktivitas fisik menurunkan peristaltik usus. Tentukan hubungan antara episode diare dan mencerna makanan khusus. Rasional : Mengidentifikasi makanan yang dapat mengiritasi dapat menurunkan episode diare.
4.    Risiko tinggi terhadap inefektif koping yang berhubungan dengan sifat kronis dari kondisi dan kurang tindakan definitif.
Tujuan : mengkaji situasi saat itu dengan tepat mengidentifikasi prilaku koping tidak efektif dan konsekuensinya. Kriteria Hasil : Mengaku kemampuan koping sendiri dan menunjukkan perubahan poila hidup yang perlu untuk membatasi/menengah kejadian berulang.
Intervensi/Rasional
Jelaskan mis konsepsi tentang PIU. Tekankan bahwa gejala psikologis adalah reaksi terhadap PIU, bukan karena PIU. Rasional : Memperbaiki mis konsepsi dapat membantu mengurangi rasa bersalah yang berhubungan dengan keyakinan ini. Identifikasi dan minimalkan faktor yang menambah ansietas. Rasional : Dengan memahami prosedur dapat menurunkan ansietas. Pelebaran menimbulkan penolakan kentara atau samar oleh orang lain dan lebih lanjut menambah perasaan ketakberdayaan dan isolasi klien. Ijinkan klien mengontrol sebagian perawatan. Rasional : Klien dengan PIU biasanya merasa seolah-olah mengalami kehilangan kontrol. Buat batas yang sesuai bila klien memerlukan perhatian konstan. Jelaskan bahwa akan sering dilakukan pemeriksaan pada interval yang telah ditentukan untuk memastikan bahwa butuhan terpenuhi. Rasional : Perilaku terlalu menuntut adalah tanda rasa takut dan ketergantungan. Sisikan waktu 15 sampai 30 menit sehari untuk meluangkan waktu klien untuk menyatakan rasa takut dan frustasi. Rasional : Perawat dapat menggunakan waktu ini untuk membantu klien mengembangkan, srtategi koping yang lebih efektif. Libatkan anggota keluarga atau orang terdekat dalam perawatan, bila mungkin. Rasional : Anggota keluarga dan orang terdekat memainkan peran penting dalam mendukung klien dan membantu mereka mengatasi dan menerima penyakitnya.
4.    Implementasi
Menurut Carpenito (2009, hal 57). komponen implementasi dalam proses keperawatan mencakup penerapan ketrampilan yang diperlukan untuk mengimplentasikan intervensi keperawatan. Ketrempilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk implementasi biasanya berfokus pada
a.    Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien.
b.    Melakukan pengkajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru atau memantau status masalah yang telah ada
c.    Member pendidikan kesehatan untuk membantu klien mendapatkan pengetahuan yang baru tentang kesehatannya atau penatalaksanaan gangguan.
d.   Membantu klien membuat keptusan tentang layanan kesehatannya sendiri
e.    Berkonsultasi dan membuat rujukan pada profesi kesehatan lainnya untuk mendapatkan pengarahan yang tepat.
f.     Memberi tindakan yang spesifik untuk menghilangkan, mengurangi, atau menyelesaikan masalah kesehatan.
g.    Membantu klien melakukan aktivitasnya sendiri
h.    Membantu klien mengidentifikasi risiko atau masalah dan menggali pilihan yang tersedia.
5.    Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat harusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respons terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil (Hidayat, A. 2008. Hal 124).




BAB III
TINJAUAN KASUS
Tinjauan kasus merupakan gambaran asuhan keperawatan yang diterapkan pada klien demam tifoid melalui proses pendekatan keperawatan yang dilakukan dari tanggal 03 sampai dengan 05 Juni 2012. Di ruang perawatan wanita Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh Utara.
A.  Pengkajian

        1.          Identitas klien
Nama Ny W berumur 40 tahun dengan jenis kelamin perempuan, bertempat tinggal di cibrek syamtalira bayu, suku Aceh, beragama Islam dan berpendidikan SMA, status perkawinan kawin, suku bangsa aceh, pekerjaan IRT, Masuk rumah sakit pada tanggal 02 Juni 2012.
        2.          Penanggung Jawab Klien
Nama Tn. A berumur 44 tahun dengan jenis kelamin laki-laki, suku Aceh, beragama Islam dan berpendidikan SD. Tn. A bekerja sebagai wiraswasta dengan bertempat tinggal di cibrek syamtalira bayu, suku Aceh dan hubungan dengan klien suami klien.
        3.          Data Riwayat Masuk
a.       Keluhan Utama
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan demam tinggi, mual, muntah, sakit kepala, nyeri dibagian abdomen, berat badan : 60 kg, tinggi badan 162 cm, tekanan darah : kanan 100/80 mmHg, temperature : 37,80 C, respirasi rate : 26x/menit, pols : 90x/menit, jam pencatatan 15.00 Wib, Ruang perawatan wanita.
b.      Riwayat keluhan
Klien sudah merasakan demam, mual, muntah, sakit kepala dan nyeri dibagian abdomen sudah dua hari sebelum masuk rumah sakit kemudian klien dibawa ke rumah sakit umum daerah cut meutia oleh suami klien pada tanggal 02 Juni 2012.
        4.          Alergi dan reaksi
klien mengatakan tidak ada alergi terhadap obat dan makanan tertentu.
        5.          Obat/pengobatan
Obat yang sudah digunakan sebelum di rumah sakit paracetamol, Amoxcilin 3x1, dexametason 1x1. Pemakaian terakhir tanggal 01 juni 2012 2011.
        6.          Riwayat penyakit
Klien mengatakan tidak pernah mengalami sakit sebelumnya.
        7.          Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit tersebut.
        8.          Alat perlengkapan/bantuan yang digunakan spesial
Alat perlengkapan yang digunakan adalah kursi roda.
        9.          Riwayat Psikologi
Stress yang baru dialami : klien gelisah, mekanisme koping : yakin kalau penyakitnya akan sembuh, suport keluarga : klien mendapat suport dari orang tua klien dan suami klien.
    10.          Neurologis
Orientasi : orang, tempat, waktu, kesadaran composmentis, pupil : normal kekuatan ekstremitas : tidak sama, bicara normal, sensori normal, penglihatan normal.
    11.          Respirasi
Pola nafas datar, suara pernafasan bersih, taktil fremitus normal, tidak ada sekresi, batuk,
    12.          Kardiovaskuler
Pols 90 x/menit, reguler, nadi radial kiri : 24x/menit, kanan : 26x/menit reguler. Auskultasi jantung tidak ada oedema, perfusi kering.
    13.          Gastrointestinal
Mukosa mulut kering, suara peristaltik usus 8x/menit, kemampuan menelan baik, BAB normal, tidak ada konstipasi.
    14.          Genitourinarius
Jenis kelamin perempuan, frekuensi 3-6 kali/24 jam, Tipe kuning muda jernih.
    15.          Self care
Pemenuhan kebutuhan yang dibantu higiene, makan. Tingkat kemampuan pemenuhan mandiri.
    16.          Nutrisi
Penampilan umum : sedang, nafsu makan kurang selama sakit, penurunan berat badan 1 kg, pola makan dibantu.

    17.          Pengkajian kulit
Warna kehitaman, tampilan secara umum kelembaban kering, temperatur sejuk, tekstur halus. Pengkajian bahaya tekanan ”resiko dekubitus” status mental sadar siaga, BAB/miksi kontrol sepenuhnya, mobilitas sedikit terbatas, activitas dapat berjalan, nutrisi sedang/cukup. Score 7 tidak danya resiko dekubitus .
    18.          Muskuloskeletal
Rom ekstremita tidak normal nyeri akibat pemasangan infus.
    19.          Pendidikan rencana pulang
Apa yang anda ketahui tentang penyakit anda sekarang ? yang saya tau kedaan saya semakin memburuk sebelum dibawa ke rumah sakit. Informasi apa yang anda butuhkan atau perlu tentang penyakit anda ? cara menanggulangi demam, dan nyeri. Siapakah anggota kelurga yang anda senangi terlibat dalam perawatan ? suami, Berapa lama anda berharap dirawat dirumah sakit ? minimal 3 hari. Apakah klien memerlukan batuan setelah pulang, berkaitan dengan ADL/fungsi fisik ? tidak ada. Apakah klien memiliki anggota keluarga yang cakap/mampu dan mau bersedia membantu klien setelah pulang ? ada, suami. Sebelumnya masuk rumah sakit/enam bulan yang lalu ? tidak ada. Klien tinggal bersama suami. Komentar : klien mengatakan ingin mengetahui lebih lanjut tentang penyakit.
    20.          Pemeriksaan penunjang
Dari data pemeriksaan laboratorium penulis mendapatkan data, yang dilakukan tes laboratorium pada tanggal 03 Juni 2012 darah : haemoglobin : 9,6 g%, eritosit : 4,29 x 10/mm, leukosit : 16,7 x 10/mm, haematokrit : 24,4%, trombosit : 636 x10/mm, LED : 5 mm/jam, urine : kekeruhan : jernih, warna : kuning tua, PH : 6, Bj : 1,020, protein : 25mg/dl (positive), billirubin : 1mg/dl (positive), widal test slide : salmonella thypi : O-1/320 H-1/320, salmonella para thypi A : O-1/80 H-1/29, salmonella para thypi B : O-1/160 H-1/320, salmonella parathypi C : O-1/40 H- 180.
    21.          Catatan cerita (narative notes)
Data Subjektif : klien mengatakan demam, sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut, batuk, lemas. Klien tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.
Data Objektif : keadaan umum lemah, diet : MB, berat badan 70 kg, tinggi badan 157 cm, temperatur 37,80C, pols 90x/menit.

B.  Diagnosa keperawatan
1.    Analisa Data
a.      Data Subjektif : Klien mengatakan badannya panas atau demam. Data Objektif : temperatur 37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput putih. Masalah : Hipertermi. Penyebab : proses inflamasi di usus.
b.      Data Subjektif : Klien mengatakan tidak mau makan, mual, muntah. Data Objektif : klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan. Masalah : Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Penyebab : anoreksia.
c.       Data Subjektif : Klien mengatakan nyeri dibagian perut. Data objektif : klien meringis, suara peristalti usus 13 x/menit. Masalah : Ketidaknyaman nyeri. Penyebab : peningkatan peristaltik usus.

2.    Prioritas Diagnosa Keperawatan
a.         Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus ditandai dengan temperatur 37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput putih.
b.        Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
c.         Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.

C.  Perencanaan
        1.          Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur 37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput putih .
Tujuan : suhu dalam batas normal. Kriteria Hasil : tidak mengalami komplikasi yang berhubungan inflamasi, suhu 36-370C.
Intervensi/Rasional
Intervensi : Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diafosis. Rasional : Suhu 380C menunjukkan proses penyakit infeksi akut pola demam dapat membantu diagnosis Mis : Kurva demam lanjut berakhir lebih dari 24 jam menunjukkan peunomonia pereumokokal. Intervensi :Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahan linan tempat tidur sesuai dengan indikasi. Rasional : Suhu ryangan, jumlah selumut haru diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. Intervensi : Kolaborasi dalam pemberian obat antipieretik sesuai dengan indikasi asa : (Aspirin), asetaminofen (tylonel). Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam aksi sentral. Intervensi : Jelaskan upaya untuk mengurangi hipertermi dan bantu untuk pelaksanaannya : tirah baring dan mengurang aktifitas fisik. Rasional : Dapat mengurangi energi yang dikeluarkan. Intervensi : Anjurkan klien untuk banyak minum 2-3 liter perhari. Rasional : piningkatan suhu tubuh menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan masukan cairan yang banyak.

        2.          Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
Tujuan : menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan. Kriteria Hasil : Melakukan prilaku/perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi/Rasional
Intervensi :Catat status nutrisi pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan derajat kekuranga berat badan, integritas mukosa oral, riwayat mual, muntah atau diare. Rasional : berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat. Intervensi : Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan periodik. Rasional : berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Intervensi : Selidiki mual, muntah, diare dan catat kemungkinan hubungan dengan obat. Rasional : dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan/pengeluaran nutrient. Intervensi : Dorong dan berika periode istirahat sering. Rasional : membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam. Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan. Rasional : memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan dan menurunkan iritasi gaster.
Kolaborasi : Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet. Rasional : memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.

        3.          Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.
Tujuan : nyeri teratasi. Kriteria Hasil : Tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
Intervensi/Rasional
Intervensi : dorong pasien untuk melaporkan nyeri. Rasional : mencoba untuk mentoleransi nyeri, daripada meminta analgesic. Intervensi : Kaji skala nyeri, Rasional : Nyeri kolik hlang timbul pada penyakit crohn. Nyeri sebelum defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba. Intervensi : kaji ulang factor-faktor yang meningkatkan atau menghilangkan nyeri. Rasional : dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau factor pembert. Intervensi : izinkan pasien untuk memulai posisi yang nyaman, mis. Lutut fleksi. Rasional : menurunkan tegangan abomen dan meningkatakan rasa kontrol. Kolaborasi Lakukan modivikasi diet sesuai resep, mis. Memverikan cairan dan meningkatkan makanan padat sesuai toleransi. Rasional : istirahat usus penuh dapat menurunkan nyeri, kram.

D.  Implementasi/Evaluasi
        1.          Implementasi Tanggal 03 juni 2012
DX 1 Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur 37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput putih .
Implementasi Jam 09.00 wib Mengukur suhu tubuh klien, Kompres dingin di bagian frontal, dada dan leher. Mengkaji warna kulit dan membran mukosa, mengatur posisi dengan semi fowler. Memberikan obat Paracetamol untuk menurukan demam, memberikan minuman yang banyak.

Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan masih demam. Objektif : Temperatur 37,80C, membran mukosa kering, kompres terpasang, klien tidak mau minum, infus terpasang, obat diminum. Analisa Data : Masalah belum teratsi. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.
DX 2 Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
Implementasi Jam 10.30 wib Menimbang berat badan klien, mengobservasi mencatat pemasukan makanan klien melalui oral, memberi klien diet MB II, menganjurkan klien untuk makanan-makanan yang bergizi, dalam porsi sering tapi sedikit.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan tidak mau makan, klien mual dan muntah. Objektif : keadaan umum lemah, BB : 70 kg, makanan yang disajikan hanya mampu dihabiskan 2-3 sendok makan saja. Analisa data : Masalah belum teratasi. Perencanaan : Intervensi dilanjutkan.
DX 3 Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.
Implementasi Jam 11.30 wib Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman mis, lutut fleksi, observasi distensi abdomen/peningkatan suhu, penurunan TD, memberikan obat analgesik.

Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : klien mengatakan masihnyeri. Objektif : wajah tampak meringis. Analisa data : Masalah Belum teratasi. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.

        2.          Implementasi Tanggal 04 Juni 2012
DX 1 Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur 37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput putih.
Implementasi Jam 09.00 wib Kompres dingin di bagian dada dan leher. Mengkaji warna kulit dan membran mukosa, menganjurkan klien untuk banyak minum air putih, memberikan obat paracetamol.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan demam sudah berkurang. Objektif : Temperatur 370C, membran mukosa kering. Analisa Data : Masalah teratasi sebagian. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.
DX 2 Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
Implementasi Jam 10.30 wib Menimbang berat badan klien, mengobservasi mencatat pemasukan makanan klien melalui oral, memberi klien diet MB II, menganjurkan kepada klien untuk makanan-makanan yang bergizi, dalam porsi sering tapi sedikit, memberikan pilihan makanan yang disukai klien yang tinggi protein.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan tidak mau makan, klien mual dan muntah. Objektif : keadaan umum lemah, BB : 70 kg, makanan yang disajikan hanya mampu dihabiskan 3-4 sendok makan saja. Analisa data : Masalah belum teratasi. Perencanaan : Intervensi dilanjutkan.
DX 3 Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.
Implementasi Jam 11.30 wib Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman mis, lutut fleksi, observasi distensi abdomen/peningkatan suhu, penurunan TD, memberikan obat analgesik, mengompres di bagian perut, memberikan antikoligernik.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : klien mengatakan nyeri berkurang. Objektif : wajah tampak rileks. Analisa data : Masalah teratasi sebgian. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.

        3.          Implementasi Tanggal 05 Juni 2012
DX 1 Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur 37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput putih.
Implementasi Jam 09.00 wib Mengukur suhu tubuh, kompres dingin di bagian dada dan leher. menganjurkan klien untuk banyak minum air putih, memberikan obat paracetamol.

Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan anaknya tidak demam lagi. Objektif : Temperatur 370C, turgor baik. Analisa Data : Masalah teratsi. Perencanaan : Tindakan dihentikan.
DX 2 Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
Implementasi Jam 10.00 wib Menimbang berat badan klien, mengobservasi mencatat pemasukan makanan klien melalui oral, memberi klien diet MB II, menganjurkan kepada orang tua klien untuk memberi klien makanan-makanan yang bergizi, dalam porsi sering tapi sedikit, memberikan pilihan makanan yang disukai klien yang tinggi protein.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan klien masih belum selera makan. Objektif : keadaan umum lemah, BB : 70 kg, makanan yang disajikan hanya mampu dihabiskan1/2 porsi. Analisa data : Masalah teratasi sebagian. Perencanaan : Intervensi dilanjutkan.
DX 3 Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.
Implementasi Jam 11.30 wib Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman mis, lutut fleksi, observasi distensi abdomen/peningkatan suhu, penurunan TD, memberikan obat analgesik.

Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : klien mengatakan nyeri hilang. Objektif : wajah tampak rileks Analisa data : Masalah teratasi. Perencanaan : Tindakan dihentika.


BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam bab ini, penulis akan membahas kesenjangan-kesenjangan yang ditemukan antara tinjauan teoritis dan tinjauan kasus yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

A.      Pengkajian Keperawatan
Data pengkajian yang penulis amati di tinjauan teoritis dan tinjauan kasus ada perbedaan antara lain : pada tinjauan teoritis terdapat data leucopenia, limfositosis relative, dan aneosinofilia pada permukaan sakit. Pada tinjauan kasus hal ini tidak diketahui karena tidak dilakukan pemeriksaan darah tepi. Pengkajian pada tinjauan kasus dilakukan pemeriksaan widal untuk membuat diagnosis, pemerikasaan yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen O, titer yang bernilai 1/200 atau lebih menunjukkan kenaikan yang progresif. Tetapi pada tinjauan kasus tidak dilakukan pemeriksaan ini dengan alasan gejala yang diperlihatkan klien sudah menunjukkan klien menderita demam tipoid.

B.       Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang terdapat ditinjauan teoritis adalah Nyeri kronis yang berhubungan dengan proses inflamasi usus. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan pembatasan diet, mual, diare, dan kram abdomen berhubungan dengan makan atau nyeri ulkus membran mukosa mulut
Diare yang berhubungan dengan proses inflamasi usus, risiko tinggi terhadap inefektif koping yang berhubungan dengan sifat kronis dari kondisi dan kurang tindakan definitif. Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen teurapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, prognosis, tindakan, dan tanda serta gejala komplikasi. Sedangkan ditinjauan kasus adalah : Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang tidak adekuat.
Diagnosa yang ada pada tinjauan teoritis tetapi tidak ada pada tinjauan kasus ; nyeri kronis berhubungan dengan proses inflamasi usus. diagnosa ini tidak terjadi pada klien karena pada pengkajian klien hanya merasakan nyeri ringan atau nyeri akut. Diare berhubungan dengan proses inflamasi usus, juga tidak terjadi karena klien BAB dalam bentuk cair dan hanya 2 kali saja dan hanya satu hari. diagnosa Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen teurapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, juga tidak terjadi pada kasus karena klien dan keluarga mendapatkan informasi yang jelas dari perawat.

C.      Perencanaan
Perencanaan asuhan keperawatan pada tinjauan teoritis pada diagnosa nyeri kronis yang berhubungan dengan inflamsi usus mengobservasi nyeri, pada tinjauan kasus tidak dilakukan karena klien tidak mengalami nyeri kronis, pada diagnosa perubahan nutrisi dilakukan (NGT) sedangkan pada tinjauan kasus pada doagnosa perubahan nutrisi tidak dilakukan (NGT) hanya menganjurkan keluarga agar menyediakan makanan yang bervariasi agar klien tertarik. Pada tinjauan teoritis diagnosa Diare dilakukan tindakan mengkaji ukuran, jenis, konsistensi diare, sedangkanpada tinjauan kasus tidak dilakukan karena tidak terjadi masalah diare. Diagnosa inefektif koping individu dilakukan tindakan mensuport klien dan keluarga pada tinjauan kasus tidak dilakukan karena klien memiliki keluarga yang selalu menjaga dan mensuport klien sehingga klien tidak merasa cemas.

D.      Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun dimana tindakan keperawatan yang diberikan masukan untuk memenuhi kebutuhan klien sehingga tujuan keperawatan dapat tercapai dari semua tindakan keperawatan.
Pada tinjauan kasus dapat dilaksanakan dengan baik walaupaun ada sebahagian tindakan tidak bisa diterapkan yaitu pada diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Karena terbatasnya waktu bagi penulis dan masalah nutrisi pencapaian tujuannya butuh waktu agak lama.

E.       Evaluasi
Untuk mengetahui hasil dan tercapainya masalah dari suatu tindakan yang dilaksanakan melalui pengkajian ulang terhadap aspek-aspek yang terkait dengan klien selama dalam perawatan. Berdasarkan evaluasi maka dapat disimpulkan bahwa sebagian masalah telah menggambarkan keberhasilan antara lain : pada masalah hipertemia, masalah teratasi pada hari ke tiga pengkajian dengan menunjukkan klien tidak demam lagi, Temperatur 370C, pada masalah resiko terhadap kekurangan volume cairan tidak terjadi.
Sebagian masalah yang tidak teratasi antara lain : pada masalah perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, keterbatasan waktu penulis dalam memberikan asuhan keperawatan sedangkan membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi masalah pada klien.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Contoh KTI Asuhan Keperawatan Pada Ny. R dengan Demam Tifoid"

Post a Comment