LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS

Askep ~Asuhan keperawatan Hepatitis merupakan salah satu laporan/acuan bagi setiap perawat untuk melakukan proses keperawatan pada pasien dengan hepatitis, sementara proses keperawatan itu sendiri terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi serta evaluasi.

Nah dalam Askep/Asuhan keperawatan hepatitis kali ini saya hanya membagikan Askep/Asuhan keperawatan hepatitis secara teoritis di mana hal ini yang dikutip dari buku-buku Medis dan Buku Keperawatan.


Selain dari mukaddimah saya yang hanya sampai disini tentang Askep/Asuhan keperawatan hepatitis. Anda bisa mengambil materi yang anda inginkan dari di bawah ini sampai seterusnya.

Askep hepatitis, a, b, c



#1. Pendahuluan Hepatitis

A. Latar belakang

Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, tetapi perhatian dunia masih terbatas, sampai adanya resolusi Word Hepatitis Alliance (WHA). Diperkirakan 2 milyar orang di dunia pernah terinfeksi hepatitis B, 240 juta orang diantaranya pengidap kronis, Upaya pencegahan yang dilakukan, selain Imunisasi hepatitis B, yaitu promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah penyebaran virus hepatitis, penapisan darah donor oleh PMI terhadap Hepatitis B dan C serta pengembangan jejaring surveilans epidemiologi (Tjandra. 2013).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar sepertiga dari populasi dunia atau sekitar 2 miliar orang saat ini terinfeksi oleh salah satu dari virus yang menyebabkan hepatitis, dengan angka kematian 250.000 orang per tahun Menurut organisasi tersebut, sekitar dua juta orang menderita hepatitis dan sebagian besar dari mereka tidak menyadari jika mereka terkena virus tersebut dan bisa menularkannya kepada orang lain (Adhitama, 2013).

Indonesia menempati peringkat ketiga penderita hepatitis terbanyak di dunia setelah India dan China, penderita hepatitis B dan C di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta orang. "Setengahnya diduga memiliki penyakit liver kronis, 10 persen di antaranya menjadi kanker liver. Indonesia adalah negara dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi yaitu lebih dari 8 persen yang sebanyak 1,5 juta orang Indonesia berpotensi mengidap kanker hati. Indonesia, telah mulai memantau penyakit hepatitis sejak lama melalui upaya pengendalian penyakit mulai dari upaya promotif, preventif, dan kuratif, di antaranya lewat imunisasi hepatitis untuk bayi sejak 1997, Di Indonesia, hepatitis termasuk salah satu penyakit berbahaya sehingga termasuk dalam lima imunisasi yang biayanya digratiskan pemerintah selain BCG, DPT, polio dan campak (Adhitama, 2013).

Berdasarkan data Riskesdas (2007) Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran Rukun Tetangga (RT) per kapita Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0,6% (rentang: 0,2% - 1,9%). Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional, tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis, kecuali di Provinsi Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Sedangkan Prevalensi hepatitis klinis di daerah Nanggroe Aceh Darussalam didapatkan jumlah penderita sebesar 0,7% dari jumlah penduduk (Riskesdas 2007. Hal 107).

Berdasarkan data yang diambil dari catatan medical record pada Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara diketahui bahwa klien yang dirawat sejak bulan Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 sebanyak 2.996 pengunjung dan diantaranya sebanyak 19 (0,63%) orang penderita Hepatitis, dan dari bulan Januari 2013 sampai dengan Desember 2013 sebanyak 3. 005 klien yang di rawat di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara dan diantaranya sebanyak 23 (0,76%) orang penderita Hepatitis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan jumlah penderita Hepatitis di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara antara persentase pada tahun 2012 dengan persensentase pada tahun 2013.

Dampak bila penyakit hati tidak segera diatasi adalah kanker hati. Sebagian besar kasus kanker hati (hepatocellular carcinoma/HCC) atau sekitar 40-50 persen disebabkan oleh Hepatitis B, dan sisanya oleh Hepatitis C (30-40 persen) serta faktor non-hepatitis B dan C seperti perlemakan hati (10-20 persen) (Adhitama, 2013).

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, penulis tertarik untuk menerapkan asuhan keperawatan yang penulis wujudkan dalam bentuk Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn.S Dengan Hepatitis B”

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran yang nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada Klien Tn.S Dengan Hepatitis B di ruang Marhamah III Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara melalui pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

a. Dapat melakukan pengkajian secara komperahensif pada Klien Tn.S Dengan Hepatitis B Di Ruang Marhamah III Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara.
b. Dapat menentukan dan mengidentifikasi masalah serta menentukan diagnosa keperawatan baik aktual atau resiko, pada Klien Tn.S Dengan Hepatitis B Di Ruang Marhamah III Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara.
c. Dapat merumuskan perencanaan keperawatan pada Klien Tn.S Dengan Hepatitis B Di Ruang Marhamah III Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara.
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi keperawatan yang telah rumuskan pada Klien Tn.S Dengan Hepatitis B Di Ruang Marhamah III Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Aceh Utara.
e. Dapat melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn.S Dengan Hepatitis B.
f. Dapat mendokumentasikan proses keperawatan pada klien Tn.S Dengan Hepatitis B.

C. Metode penulisan

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan Asuhan keperawatan secara komperahensif secara nyata dan objektif dengan cara mengumpulkan data, menganalisa data, mendiagnosa masalah, memecahkan masalah, melakukan implementasi dan mengevaluasi masalah yang telah diatasi. Pendekatan dilakukan secara:


1. Study kepustakaan (Library study)
Study kepustakaan ini dilakukan dengan cara mempelajari dan memahami literatur-literatur yang bersifat teoritis berdasarkan pendapat ahli yang ada kaitannya dengan judul yang penulis bahas

2. Study kasus (Case research)
Dalam kasus ini penulis langsung mengamati, mempelajari, dan melaksanakan asuhan keperawatan terhadap Tn.S Dengan Hepatitis B, Metode pengambilan data meliputi :
a. Wawancara
Mengadakan wawancara baik secara auto anamneses maupun allowanamnese pada klien, keluarga, perawat ruangan dan tenaga medis lainnya yang ikut berpartisipasi dalam proses perawatan pada klien.
b. Pengamatan/observasi
Pengamatan/observasi terhadap pelaksanaan keperawatan pada Tn.S Dengan Hepatitis B selama dirawat.
c. Pemeriksaan fisik
Pada tahap pengkajian dilakukan pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, dan aulkultasi, pada tahap pemeriksaan penunjang penulis menggunakan catatan yang ada dalam status klien berupa hasil pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen.
d. Dokumentasi
Suatu metode pengumpulan data dimana data didapat melalui pencatatan Rumah Sakit seperti data prevalensi yang didapat berdasarkan data Rekam Medik, dan pencatatan terhadap semua perkembangan atau keadaan yang dialami klien.

#2. Tinjauan Teoritis

A. Pengertian

Hepatitis adalah peradangan pada hati yang mengalami nekrosis berupa bercak difus yang mempengaruhi seluruh sel asinus hati dan merusak arsitekstur hati (Morgan, 2009. Hal 209). Sedangkan menurut Brunner & Suddarth (2001. Hal 1169).Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi pada sel-sel hati yang merupakan kumpulan perubahan klinis, biokimia, serta seluler yang khas.

Hepatitis virus merupakan infeksi sitemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Suratun & Lusianah, 2010. Hal: 155). Misnadiarly, (2007. Hal 36). Menyatakan Hepatitis didefenisikan sebagai suatu penyakit yang ditandai dengan suatu peradangan yang terjadi pada organ tubuh seperti hati atau liver

Dari pendapat beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penyakit hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada hati yang merupakan infeksi sistemik oleh virus atau oleh toksin termasuk alkohol.




B. Klasifikasi hepatitis

1. Hepatitis A
Virus Hepatitis A adalah bentuk hepatitis yang paling menular dan mempunyai karakteristik sebagai penyakit yang dapat sembuh sendiri. Hepatitis ini ditularkan terutama melalui rute-fekal oral, dan dapat juga ditularkan melalui pengolahan makanan yang kurang bersih, makanan yang terkontaminasi, dan kerang kerangan dari air yang telah terkontaminasi limbah.

2. Hepatitis B dan Hepatitis C
Virus Hepatitis B dan Hepatitis C ditularkan melalui darah atau produk darah dan secret tubuh (eksudat luka, semen, liur, air susu ibu, urine).

3. Hepatitis D
Virus Hepatitis D hanya dapat menimbulkan infeksi dan manifestasi klinis jika terdapat infeksi hepatitis B. virus tersebut hidup sebagai parasit pada hepatitis B.

4. Hepatitis E
Hepatitis E adalah epidemik atau hepatitis non-A, non-B yang ditularkan secara enterik. Penularan terjadi melalui rute fekal-air yang terkontaminasi dan sering terjadi setelah bencana alam di negara-negara berkembang.

5. Hepatitis G
Penyebab utama infeksi hepatitis G adalah melalui transfusi dan transplantasi organ ( Betz, C.L. 2009. Hal 221).



C. Etiologi dan Faktor Resiko


Menurut Suyono, (2007. Hal 427) Secara umum agen hepatitis virus dapat diklafikasikan kedalam dua grup yaitu hepatitis dengan transmisi secara enterik dan transmisi darah.

1) Transmisi secara enteric; Virus tanpa selubung. Tahan terhadap cairan empedu. Ditemukan di tinja. Tidak dihubungkan dengan penyakit hati kronik. Tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier intestinal.

2) Transmisi melalui darah; Terdiri atas virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis D (HDV) dan virus hepatitis C (HCV). Virus dengan selubung (envelope). Rusak bila terpajan cairan empedu / detergen. Tidak terdapat dalam tinja. Dihubungkan dengan penyakit hati kronik. Dihubungkan dengan viremia yang persisten.

D. Patofisiologi

Baradero (2008. Hal 32) menyatakan hepatitis virus menyebabkan inflamasi yang menyebar ke jaringan-jaringan hepar melalui infiltrasi. Inflamasi, degenerasi, dan regenerasi dapat terjadi serentak. Inflamasi yang disertai pembengkakan dapat menekan cabang vena porta. Transaminase serum akan meningkat dan masa protrombin memanjang. Hepatitis virus dapat muncul karena faktor-faktor; keganasan virulensi virus, luasnya jaringan hepar yang rusak, status kesehatan termasuk keadaan nutrisi pasien, perawatan dan pngobatan yang diterimanya. Kebanyakan pasien dapat sembuh termasuk kembalinya fungsi yang normal dari hepar, tetapi ada beberapa juga yang dapat mengancam nyawa pasien. Hal ini dapat terjadi jika hepatitis menjadi, hepatitis fluminan yang secara tiba-tiba hepar mengalami degenerasi dan atrofi berat yang mengakibatkan kegagalan hepar. Hepatitis virus subakut terjadi ketika degenerasi pada hepar juga berat namun perlahan, nekrosis hepatik submasif atau masif.

Pada nekrosis hepatik submasif, hanya sebagian dari lobulnya mengalami nekrosis, sedangkan pada yang masif seluruh lobulnya mengalami nekrosis. Keduanya dapat mengakibatkan sirosis atau hepatitis kronis. Tanda-tanda dari semua jenis hepatitis virus sama, kecuali untuk hepatitis A yang tanda awalnya bersifat tiba-tiba. Tanda-tanda hepatitis virus dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu: (1) Tahap pra-ikterik (tahap prodmoral) yang berlangsung selama satu minggu. Anoreksia (merupakan tanda utama), suhu tubuh meningkat disertai menggigil, mual dan muntah, kesulitan mencerna makanan (dispepsia), nyeri sendi (artralgia), nyeri tekan pada hepar, cepat lelah, (perasaan ketidaknyamanan), dan hilang minat, berat badan menurun. (2) Tahap ikterik dimulai dangan timbulnya ikterik yang berlangsung selama 46 minggu. Pada tahap ini, tanda tahap pre-ikterik akan berkurang. Kecuali anoreksia, mual, muntah, dyspepsia,malaise makin bertambah, nyeri tekan pada hepar juga bertambah. Ikterik timbul karena gangguan metabolisme bilirubin. Urine pasien berwarna kuning tua, transaminase serum (ALT dan AST) dan alkalin fosfatase meningkat, serta masa protrobin memanjang. (3) Tahap pasca-ikterik atau tahap penyembuhan. Tahap ini di mulai ketika ikterik telah hilang.

E. Manifestasi Klinis

Setelah masa inkubasi berakhir, akan terjadi gejala prodromal yang dapat berupa anoreksia, mual, muntah, mialgia, altralgia, atau coryza berkisar selama 1-2 minggu. Fase ini disusul dengan fase ikterik yang ditandai dengan timbulnya ikterus dan berkurangnya keluhan keluhan prodromal. Pada saat itu, hepar teraba dan nyeri tekan. Dapat timbul limfadenopati dan splenomegali. Kadang-kadang terdapat tanda-tanda kolestasis yang disertai ikterus berkepanjangan serta gatal-gatal. Setelah fase ikterik yang berlangsung selama beberapa minggu, penderita masuk kedalam fase penyembuhan. Selama masa penyembuhan gejala-gejala konstitusional menghilang tetapi hepatomegali masih tetap ada dan kelainan-kelainan biokimia masih tampak. Penyembuhan sempurna terjadi berkisar 1-2 bulan tetapi dapat mencapai 4 bulan (Soewignjo, 2008. Hal 37).

F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan hepatitis menurut Davey (2006. Hal 224 ) yaitu; 

a. Pencegahan, orang beresiko (misalnya pekerja kesehatan) harus di imunisasi. karies virus yang diketahui harus memahami resikonya baik orang lain bila terpapar cairan tubuh dan harus menggunakan kontrasepsi penghalang.

b. Umum, infeksi HBV akut jarang membutuhkan perawatan di rumah sakit. folow-up perlu dilakukan untuk menentukan apakah virus telah berhasil diberantas.

c. Terapi antivirus, tidak ada antivirus yang bisa membantu selama nfeksi akut, walaupun lamivudin bisa membantu pada gagal hati kronis. orang imunokopeten dengan infeksi > 6 bulan dan kadar transaminase tinggi merupakan indikasi pemberian interferon.

d. Scrining HHC. pemantauan reguler dengan ultrasonografi hati dan pengukuran a-fetoprotein.

e. Transplantasi hati, indikasi pada sirosis dekompensata dan hepatoma unifokal kecil. rekurensi infeksi virus pasca-transplantasi dikurangi degan terapi antivirus (lamivudin)



G. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan hepatitis menurut Davey (2006. Hal 224) yaitu; berupa Test darah hati, biasanya menunjukkan kelainan hepatoselular akut (kenaikan predominan dari SGOT, dengan kenaikan billirubin dan fosfatase alkali yang lebih tidak jelas). Serologi IgM dengan titer tinggi merupakan hasil yang diagnostic untuk infeksi akut.








#3. Konsep Asuhan Keperawatan Hepatitis



Menurut Doengoes (2000. Hal 535-543) konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan hepatitis B yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan adalah sebagai berikut :

1. Pengkajian Hepatitis
a. Aktivitas : Kelemahan, Kelelahan, Malaise umum.
b. Sirkulasi
Tanda : Bradikardi (hiperbilirubin berat), Ikterik pada sclera, kulit, membran mukosa

c. Eliminasi
Gejala : Urine gelap, Diare/konstipasi, feses warna tanah liat. Adanya/berulangnya hemodialisa.

d. Makanan dan Cairan
Gejala : Anoreksia, Berat badan menurun, Mual dan muntah, Peningkatan oedema,
Tanda : Asites/Acites

e. Neurosensori
Peka terhadap rangsang, Cenderung tidur, Letargi, Asteriksis.

f. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, Nyeri tekan pada kuadran kanan, Mialgia, Atralgia, Sakit kepala, Gatal (pruritus).
Tanda : Otot tegang, gelisah.

g. Pernapasan
Tidak minat/enggan merokok (perokok).

h. Keamanan,
Gejala : Adanya transfuse darah.
Tanda : Demam, Urtikaria, Lesi makulopopuler, Eritemia, Splenomegali, Pembesaran nodus servikal posterior

i. Seksualitas : Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan.

j. Penyuluhan dan Pembelajaran
Gejala : riwayat diketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri atau toksin (makanan terkontaminasi, air, jarum, alat bedah atau darah); pembawa (simptamatik atau asimptomatik); adanya prosedur bedah dengan anestasi haloten; terpajan pada kimia toksin, obat resep.
Pertimbangan rencana pemulangan : mungkin memerlukan bantuan dalam tugas pemeliharaan dan pengaturan rumah.

k. Pemeriksaan Diagnostik
Tes fungsi hati : Abnormal (4–10 kali dari normal). Catatan : merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non-virus.
AST ( SGOT) dan ALT (SGPT ) : Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikteri kemudian tampak menurun.
Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
Leucopenia : Trombositopenia mungkin ada (splenomegali).
Deferensial darah lengkap : luckositosis, monositosis, limfosit atipikal. Dan sel plasma.
Alkali fosfatase : agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat).
Fases : warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati).
Albumin serum : menurun.
Gula darah : hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fungsi hati).
Anti – HAVI,gM : positif pada tipe A.
HbsAG : Dapat positif (tipe B) atau negative (tipe A). Catatan : merupakan diagnostik sebelum terjadi gejala klinis.
Masa protrombin : mungkin memanjang (disfungsi hati).
Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler).
Tes ekskresi BSP : Kadar darah meningkat.
Biopsi hati : Menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
Skan hati : Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim.
Urinalisa : Peninggian kadar bilirubin ; protein/hematuria dapat terjadi.


2. Diagnosa keperawatan Hepatitis


a. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan kekuatan/ketahanan, mengalami keterbatasan aktivitas, depresi ditandai dengan laporan kelemahan, penurunan kekuatan otot, menolak untuk bergerak.


b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik, anoreksia, mual/ muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan: penurunan peristaltic usus, empedu tertahan. Ditandai dengan enggan makan/kurang minat terhadap makanan, gangguan sensasi pengecap, nyeri abdomen/kram, penurunan berat badan, tonus otot buruk


c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan yang berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga, ganggauan proses pembekuan.


d. Situasional harga diri rendah berhubungan dengan gejala jengkel/marah, terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan ditandai dengan peryntaan perubahan pola hidup, perasaan negatif terhadap tubuh.


e. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, malnutrisi, kurang pengetauan untuk menghindari pemajanan pada pathogen.


f. Resiko tinggi terhadap kerusakan jaringan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia : akumulasi garam empedu dalam jaringan.


g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interprestasi informasi, tak mengenal sumber informasi.


3. Intervensi Keperawatan Hepatitis

a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan kekuatan/ketahanan; nyeri, mengalami keterbatasan aktivitas; depresi ditandai dengan laporan kelemahan, penurunan kekuatan otot, menolak untuk bergerak.

Tujuan : Klien menunjukkan perbaikan terhadap aktifitas
Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.
Intervesi :

1) Tingkatkan tirah baring, ciptakan lingkunga yang tenang.
Rasional : Meningkatkan ketenangan istirahat dan menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.

2) Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik.
Rasional : meningkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.

3) Tingkatkan aktivitas sesuai denga toleransi.
Rasional : tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan.

4) Dorong teknik manajemen stres, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi, berikan aktivitas hiburan yang tepat.
Rasional : meningkatkan relaksasi dan peningatan energi.

5) Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Rasional : menunjukkan kurangnya resolusi penyakit, memerlukan istirahat lanjut.

6) Berikan antidote atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi, tergantung pada pemanjanan.
Rasional : membuang agen penyebab pada hepatitis toksit dapat membatasi derajat kerusakan jaringan.

7) Berikan obat sesuai indikasi: sedatif, agen anti ansietas.
Rasional : membantu dalam manajemen kebutuhan tidur.

8) Awasi kadar enzim hati.
Rasional : membantu menentukan kadar aktivitas tepat sebagai peningkatan prematur pada potensial resiko berulang.


b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik, anoreksia, mual/muntah, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan: penurunan peristaltik usus, empedu tertahan. Ditandai dengan tidak mau makan/kurang minat terhadap makanan, gangguan sensasi pengecap, nyeri abdomen/kram, penurunan berat badan, tonus otot buruk.

Tujuan : Klien menunjukkan status nutrisi yang adekuat.
Kriteria hasil : Menunjukkan prilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan berat badan yang sesuai.

Intervensi

1) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar.
Rasional : makan banyak sulit untuk mengatur kalau pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk selama siang hari.

2) Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional : menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan.

3) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional : menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.

4) Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan pemen berat sepanjang hari.
Rasional : bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna.

5) Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai dengan kebutuhan pasien, dengan memasukkan lemak dan protein sesuai toleransi.
Rasional : berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhna individu.

6) Berikan obat sesuai toleransi, contoh antasida (Mylanta).
Rasional :Kerja pada asam gaster, dapat menurunkan iritasi/resiko perdarahan.

7) Berikan vitamin contoh B komplek.
Rasional : Memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan.

8) Berikan terapi steroid contoh prednison.
Rasional : steroid di indikasikan karena meningkatkan resiko berulang/terjadinya hepatitis kronis pada pasien dengan hepatitis kronis.

9) Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila diperlukan.
Rasional : mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan/gejala memanjang.


c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan yang berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga, ganggauan proses pembekuan.

Tujuan : Klien akan menunjukkan status cairan adekuat.
Kriteria hasil : Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, turgor kulit baik, pengisisan perifer, nadi perifer kuat, dan haluaran urin individu sesuai.

Intervensi

1) Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional : diare dapat berhubungan dengan respon terhadap infeksi dan mungkin terjadi sebagai masalah yang lebih serius dari obstruksi aliran darah portal.

2) Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membrane mukosa.
Rasional : indicator volume sirkulasi/perfusi.

3) Periksa asites atau pembentukan odema.
Rasional : menurunkan kemungkinan perdarahan kedalam jaringan.

4) Observasi tanda perdarahan.
Rasional : kadar protrombin meurun dan waktu koagulasi memanjang bila apsorbsi vitamin K terganggu pada traktus GI dan sintesis protombin menurun.

5) Awasi nilai laboratorium, HB, HT, Na albumin, dan waktu pembekuan.
Rasional : menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan odema.

6) Berikan cairan IV biasanya (glukosa), elektrolit.
Rasional : memberikan cairan dan penggantian cairan elektrolit.


d. Situasional harga diri rendah berhubungan dengan gejala jengkel/marah, terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan ditandai dengan pernyataan perubahan pola hidup, perasaan negatif terhadap tubuh.
Tujuan : Mempertahankan harga diri klien pada tingkat stabil.

Kriteria hasil : Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi diri negatif, menyatakan penerimaan diri, dan lamanya penyembuhan, mengakui diri sebagai orang berguna, bertanggung jawab atas diri sendiri.

Intervensi :

1) kontrak dengan pasien mengenai waktu untuk mendengarkan tentang diskusi perasaan/masalah.
Rasional : penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya. Kesempatan untuk mengekspresikan perasaan memungkinkan pasien untuk merasa lebih mengontrol situasi.

2) Hindari membuat penilaian moral tentang pola hidup (penggunaan alkohol/praktik seksual).
Rasional : pasien merasa marah/ kesal dan menyalahkan diri; penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.

3) Anjurkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.
Rasional : mampukan pasien untuk menggunakan waktu dan energi pada cara yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas dan depresi.

4) Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau merah hitam dari pada kuning atau hijau.
Rasional : meningkatkan penampilan, karena kulit kuning diperjelas oleh warna kuning/hijau.

e. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, malnutrisi, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.

Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman penyebab individu/faktor resiko.

Intervensi

1) Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernapasan seusai kebijakan rumah sakit; termasuk cuci tangan efektif.
Rasional : mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.

2) Awasi/batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional : pasien terpajan terhadap proses infeksi (khususnya respiratorius) potensial resiko komplikasi sekunder.

3) Jelaskan prosedur isolasi pada pasien/orang terdekat.
Rasional : pemahaman alasan untuk perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan stigma.


4) Berikan informasi tentang adanya gama globulin, ISG, HBIG, vaksin hepatitis B (recombivax HB, engerik-B) melalui departemen dan dokter keluarga. Efektif dalam mencegah virus hepatitis pada orang yang terpajan, tergantung tipe hepatitis dan periode inkubasi.

5) Berikan obat sesuai indikasi : anti virus.
Rasional : berguna pada pengobatan hepatitis aktif kronis.

6) Berikan obat sesuai indikasi : interferon alfa 2 B.
Rasional : efektif pada pengobatan penyakit hati sehubungan dengan HCV.

7) Anti biotik tepat untuk agen pencegah (contoh, gram negatif, bakteri anaerob) atau proses sekunder.
Rasional : pengobatan hepatitis bakterial, atau untuk mencegah/membatasi infeksi sekunder.


f. Resiko tinggi terhadap kerusakan jaringan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia : akumulasi garam empedu dalam jaringan.


Tujuan : Kerusakan jaringan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : Menunjukkan jaringan kulit/kulit utuh, bebas ekskoriasi, melaporkan tak adanya/penurunan pruritus/lecet.

Intervensi

1) Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji, hindari sabun alkali dan berikan minyak kelamin sesuai indikasi.
Rasional : mencegah kulit kering berlebihan dan menberikan penghilangan gatal.

2) Anjurkan menggunakan kuku – kuku jari untuk menggaruk bila tidak terkontrol. Pertahankan kuku jari terpotong pendek pada pasien koma atau selama jam tidur.
Rasional : menurunkan potensial cedera kulit.

3) Berikan masase pada waktu tidur.
Rasional : bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.

4) Hindari komentar tentang penampilan pasien.
Rasional : meminimalkan stress psikologis sehubungan dengan perubahan kulit.

5) Antihistamin contohnya metdilazin (tacaryl) di fenhidrasi (Benadryl).
Rasional : menghilangkan gatal catatan gunakan terus menerus pada penyakit hepatik berat.

6) Antilipemik contohnya kolestramin (questran).
Rasional : mungkin digunakan untuk asam empedu pada usus dan mencegah absorsinya.



g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interprestasi informasi, tak mengenal sumber informasi.

Tujuan : Kebutuhan belajar klien terpenuhi.
kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.

Intervensi

1) Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/prognosis kemungkinan pilihan pengobatan.
Rasional : mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan/salah informasi dan menberikan kesempatan untuk informasi tambahan sesuai keperluan.

2) Berikan informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit. Contoh kontak yang memerlukan gama globulin masalah pribadi tak perlu dibagi, tekankan cuci tangan dan sanitasi pakaian , cuci piring, dan fasilitasi kamar mandi bila enzim hati masih tinggi. Hindari kontak intim seperti ciuman, kontak seksual dan terpajan pada infeksi khususnya infeksi saluran pernafasan (ISK).
Rasional : kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi karna tipe hepatitis (agen penyebab) dan situasi individu.

3) Rencanakan memulai aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat adekuat. Diskusikan pembatasan mengangkat berat dan latihan keras / olahraga.
Rasional : ini tak perlu untuk menunggu sampai bilirubin serum kembali normal untuk memulai aktivitas (memerlukan waktu 2 bulan). Tetapi aktivitas keras perlu dibatasi sampai hati kembali ke ukuran normal.

4) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih.
Rasional : aktivitas yang dapat dinikmati akan menbantu pasien menghindari pemusutan pada penyembuhan panjang.

5) Dorong kesinambungan diet seimbang.
Rasional : meningkatkan kesehatan umum dan meningkatkan proses penyembuhan/regenerasi jaringan.

6) Identifikasi cara untuk menpertahankan fungsi usus biasanya. Contohnya masukan cairan adekuat/diet serat, aktivitas/latihan sedang sesuai toleransi.
Rasional : penurunan tingkat aktivitas, perubahan pada pemasukan makanan/cairan dan motilitas usus dapat mengakibat konstipasi.

7) Diskusikan efek samping dan bahaya minun obat yang dijual bebas/diresapkan contohnya asetaminofen. Aspirin sulfonamid, beberapa anestetik dan perlunya melaporkan ke pemberi perawatan tentang diagnosa.
Rasional : beberapa obat merupakan toksik untuk hati : banyaknya obat lain dimetabolisme oleh hati dan harus dihindari pada penyakit hati berat karna menyebabkan efek kumulatif toksik/hepatitis kronis.

8) Diskusikan pembatasan donatur darah.
Rasional : mencegah penyebaran penyakit infeksi, kebanyakkan undang – undang Negara bagian menerima donor yang menpunyai riwayat berbagai tipe hepatitis.

9) Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium.
Rasional : proses penyakit dapat memakan waktu berbulan – bulan untuk membaik, bila gejala ada lebih lama dari 6 bulan biopsi hati diperlukan untuk memastikan adanya hepatitis kronis.

10) Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 – 12 bulan minimum atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional : meningkatkan iritasi hepatik dan menpengaruhi pemulihan.



4. Implementasi
Menurut Carpenito, (2009, hal 57). komponen implementasi dalam proses keperawatan mencakup penerapan keterampilan yang diperlukan untuk mengimplementasikan intervensi keperawatan. Keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk implementasi biasanya berfokus pada

a. Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien.
b. Melakukan pengkajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru atau memantau status masalah yang telah ada
c. Memberi pendidikan kesehatan untuk membantu klien mendapatkan pengetahuan yang baru tentang kesehatannya atau penatalaksanaan gangguan.
d. Membantu klien membuat keputusan tentang layanan kesehatannya sendiri
e. Berkonsultasi dan membuat rujukan pada profesi kesehatan lainnya untuk mendapatkan pengarahan yang tepat.
f. Memberi tindakan yang spesifik untuk menghilangkan, mengurangi, atau menyelesaikan masalah kesehatan.
g. Membantu klien melakukan aktivitasnya sendiri
h. Membantu klien mengidentifikasi risiko atau masalah dan menggali pilihan yang tersedia.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat harusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respons terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil (Hidayat, A, 2008. hal; 124).


Demikian contoh askep hepatitis yang dapat saya bagikan, semoga meringankan beban anda dalam menyusun Asuhan Keperawatan dengan kasus hepatitis, untuk sementara itu anda juga bisa menjadikan file tersebut sebagai PDF atau format word tanpa harus melalui proses pengetikan dari pertama. akhir kata dari saya wassalamualikum warhamtullahi wabarakatuh.


1 Response to "LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS"

  1. terima kasih, artikel ini sangat membantu saya untuk menambah refensi saya dalam membuat Laporan Pendahuluan Askep saya, Senang bisa berkunjung ke halaman website anda

    ReplyDelete