ASKEP DEMAM TIFOID

Asuhan keperawatan atau sering di singkat dengan sebutan Askep sudah merupakan makanan sehari-hari para perawat, sebagai acuan dan laporan tentang penerapan Praktik Keperawatan yang diberikan kepada pasien.

tidak terkecuali juga dengan penyakit endemik Demam Tifoid, dan Beikut ini merupakan salah satu contoh Asuhan keparawata pada pasien dengan Demam Tifoid. dan untuk contoh kasus nya akan share juga di sini di waktu yang akan datang.

A.  Konsep Dasar
1.    Pengertian
Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan salmonella enteric khususnya turunannya yaitu salmonella thyphi, parathyphi A, parathyphi B, dan parathyphi C pada saluran pencernaan terutama menyerang bagian saluran pencernaan (Suratun, 2010).
Demam tifoid (enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya  mengenai saluran  pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran        (Nursalam, 2005).
Dari kedua pernyataan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa demam tifoid adalah penyakit infeksi pada bagian sistem pencernaan terutama pada usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi yang biasanya menimbulkan demam lebih dari satu minggu.

2.    Etiologi
Menurut Rampengan (2007) Penyakit demam tifoid disebabkan oleh infeksi kuman salmonella typhosa/Eberthella typhosa yang merupakan kuman gram negatif, motil dan tidak menghasilkan spora. Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang sedikit lebih rndah, serta mati pada suhu 700C ataupun oleh antiseptik. Sampai saat ini, dikethui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.
Salmonela typhosa mempunyai 3 macam antigen yaitu:
a.         Antigen O =Ohne Haunch= antigen somatik (tidak menyebar)
b.        Antigen H= Hauch (menyebar), terdapat pada flagela dan bersifat termolabil.
c.         Antigen V1 =kapsul=merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen O terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen tersebut didalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga mcam anti bodi yang lazim disebut aglutinin. Salmonella typhosa juga dapat memperoleh plasmid faktor R yang berkaitan dengan resistensi terhdap multipel antibiotic.
Ada tiga spesies utama yaitu :
a.         Salmonella typhosa (satu serotipe).
b.        Salmonella choleresius (satu serotipe).
c.         Salmonella entereditis (lebih dari 1500).

3.    Patofosiologi
Menurut Nursalam (2005) mekanisme masuknya kuman diawali dengan infeksi yang terjadi pada saluran pencernaa. basil diserap diusus halus melalui pembuluh limfe lalu masuk kedalam peredaran darah sampai diorgan-organ lain, terutama hati dan limpa. basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai dengan rasa nyeri diperabaan. Kemudian basil masuk kembali kedalam darah (bakteriemia) dan menyebar keseluruh tubuh terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus; sehingga menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa diatas plak nyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perferasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksit, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

4.    Manisfestasi  klinis
Inkubasi terjadi selama 10 sampai 14 hari. Demam naik secara bertahap, nyeri kepala, malaise, dan kadang kadang batuk. Gejala abdomen (nyeri, diare, atau konstipasi) jelas terlihat pada minggu pertama. Sedangkan diare, hepatosplenomengali ringan, dan roseola (rose spots) (60%) muncul pad minggu kedua. Syok, gangguan ginjal, dan perubahan status mental, termasuk koma, muncul pada kasus-kasus berat (Davey, P. 2005).

5.    Pemeriksaan Penunjang
Menurut Mansjoer (2000) pemeriksaan penunjang pada klien dengan demam tifoid pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan leucopenia, limfositosis relatif, aneosinofilia. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan.
Dari pemeriksaan widal, titer antibody terhadap antigen O yang bernilai ≥ 1/200 atau peningkatan  4 kali antara masa akut dan konvalesens mengarah kepada demam tifoid, meskipun dapat terjadi positif maupun negatif palsu akibat adanya reaksi silang antara spesies salmonella. Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan kuman S. typhii pada biakan empedu yang diambil dari darah pasien.

6.    Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer (2000) penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut:
a.    Tirah baring total selama demam sampai  dengan 2 minggu normal kembali. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya berdiri dan berjalan.
b.    Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh mengandug banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.
c.    Obat terpilih adalah kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari. dosis maksimal kloramfenikol 2 g/hari.                                                                                                                                                                                    Kloramfenikol tidak boleh diberikan bila jumlah leukosit kurang dari 2000/ul. Bila pasien alergi dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol.
7.    Komplikasi
a.    Pada usus halus umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal.
1)        Perdarahan usus. Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak terjadi melena, dapat disertai nyeri perut dangan tanda tanda renjatan.
2)        Perforasi usus. Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang idak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitupekak hati menghilang dan terdapat udara dirongga hati dan diafragma pada foto rontgen abdomenyang dibuat dalam keadaan tegak.
3)        Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut  yang hebat, dinding abdomen tegang (defence musculair)
b.    Komplikasi diluar usus. Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterimenia), yaitu meningitis, kolesistitis, ensefalopati, dan lain lain. Terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia (Ngastiah, 2005).







B.  Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Demam Tifoid
Menurut Nursalam (2005) Adapun pengkajian, diagnosa keperawatan dan perencanaan keperawatan pada anak dengan demam tifoid adalah sebagai berikut :
1.    Pengkajian
a.         Identitas
 Sering ditemukan pada anak berumur diatas satu tahun.
b.         Keluhan utama
Berupa perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing, dan kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama selama masa inkubasi).
c.         Suhu tubuh
 Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama  3 minggu, bersifat febris remiten dan suhunya tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap harinya, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari.dalam minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan demam. Pada minggu ketiga, suhu berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
d.        Kesadaran
 Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis sampai samnolen, jarang terjadi sopor, koma, atau gelisah (kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat mendapat pengobatan). Disamping gejala-gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan reseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.
e.         Pemeriksaan fisik:
1)   Mulut
 terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), sementara ujung dan tepinya berwarna kemerahan, dan jarang disertai tremor.
2)   Abdomen
dapat ditemukan keadan perut kembung (meteorismus). Bisa terjadi konstipasi, atau mungkin diare atau normal.
3)   Hati dan limpa membesar disertai dengan nyeri pada perabaan.
f.          Gagal untuk tumbuh
deselarasi pola pertumbuhan yang ada atau secara konsisten berada dibawah persentil ke 5 grafik pertumbuhan untuk tinggi dan berat badan, disertai pelambatan perkembangan.
g.         Muntah atau regurgitasi
transfer fasif isi lambung kedalam esophagus atau mulut.
h.         Muntah
ejeksi kuat isi lambung; melibatkan proses kompleks dibawah kontrol system saraf pusat yang menyebabkan salviasi, pucat, berkeringat, dan takikardia; biasa nya disertai mual.
i.           Muntah projektil
muntah yang disertai gelombang peristaltik kuat secara khas berhubungan dengan stenosis pilorik atau pilorospasme.
j.           Mual
rasa tidak enak yang secara samar-samar menyebar ketonggorokan atau abdomen dengan kecendrungan untuk muntah.
k.         Hipoaktif, hiperaktif atau tidak adanya bising usus
bukti masalah motalitas usus yang dapat disebabkan oleh inflamasi atau obstruksi.
l.           Distensi abdomen
kontur menonjol dari abdomen yang mungkin disebabkan oleh pelambatan pengosongan lambung, akumulasi gas atau feses, inflamasi, dan obstruksi.
m.       Nyeri abdomen
nyeri yang berhubungan dengan abdomen yang mungkin terlokalisasi tau menyebar, akut atau kronis, sering disebabkan oleh inflamsi, obstruksi atau hemoragi.

n.         Ikterik
warna kuning pada kulit dan sclera yang berhubungan dengan disfungsi hati.
o.         Disfagia
kesulitan menelan yang disebabkan oleh abnormalitas fungsi neuromuskuler faring atau atau sfingter esophagus atas atau oleh gangguan  esophagus.
p.         Disfungsi menelan
gangguan menelan karena defek system saraf pusat atau defek strukgtural rongga oral, faringatau esophagus.

2.    Diagnosa keperawatan
Menurut Nursalam (2005) diagnosa keperawatan yang lazim didapatkan pada anak dengan demam tifoid adalah sebagai berikut:
b.    Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi.
d.   Resiko tinggi komplikasi dengan proses inflamasi pada usus.
e.    Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
3.    Perencanaan
Perencanaan pada klien anak dengan demam tifoid Menurut Nursalam (2005) berdasarkan diagnosa keperawatan yaitu :
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat, Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan
Intervensi: Awasi pemasukan atau jumlah kalori. Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, mengawasi masukan kalori dan kualitas konsumsi makanan.
Intervensi: Berikan perawatan mulut sebelum makan. Rasional : Menghilangkan rasa tak enak dan dapat meningkatkan nafsu makan.
Intervensi: Berikan makanan sedikit tapi sering. Rasional :  Makan sedikit tapi sering dapat menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukan dan mengurangi rasa mual.
Intervensi: Anjurkan makan pada posisi duduk tegak. Rasional : Menurunkan rasa penuh pada abdomen.
Intervensi: Kolaborasi dengan tim gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien Rasional : Berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan klien.
Intervensi: Kolaborasi dalam pemberian obat antiematik sesuai indikasi. Rasional :   Diberikan ½ jam sebelum makan, dapat menurunkan mual dan meningkatkan toleransi makanan.
b.    Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi.
Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil : tanda-tanda vital dalam batas normal, turgor kulit kembali membaik.
Intervensi: Pantau suhu klien (derajatnya), perhatikan menggigil. Rasional : suhu 38-41oC menunjukkan proses infeksius akut.
Intervensi: Pantau suhu lingkungan, batasi atau tambahkan line tempat tidur sesuai indikasi. Rasional : suhu ruangan atau jumlah selimut harus di ubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
Intervensi: Berikan kompres hangat dan hindari penggunaan alkohol. Rasional : dapat membantu mengurangi demam, penggunaan air es dan atau alkohol mungkin menyebabkan kedinginan, selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit.
Intervensi: Pakaikan baju yang tipis dan menyerapkan keringat. Rasional : akan mempermudah terjadinya evaporasi akibat panas dalam tubuh.
Intervensi: Kolaborasi dalam pemberian anti piretik contohnya paracetamol. Rasional : digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipothalamus.
Intervensi: Kolaborasi pemberian selimut dingin. Rasional : digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,5oC-40oC pada waktu terjadi kerusakan pada otak.
c.    Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan proses infllamasi pada usus.
Tujuan : mempertahankan kondisi pasien dalam keadan amam dan nyaman
Kriteria hasil : pasien merasa aman dan nyaman
Intervensi: Lakukan perawatan mulut 2x1 hari. Rasional : Menghilangkan rasa tak enak dan dapat meningkatkan nafsu makan.
Intervensi: Berikan minum dengan sering. Rasional :  agar selaput lendir mulut dan tenggorokan tidak kering.
Intervensi: Ajarkan anak dan keluarga untuk tentang proses penyakit dan alasan untuk terapi. Rasional : untuk meningkatkan kepatuhan.
Intervensi: Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien. Rasional : Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.
d.   Resiko tinggi komplikasi dengan proses inflamasi pada usus.
Tujuan : komplikasi tidak terjadi.
Kriteria hasil : mempertahankan intake yang adekuat.
Intervensi: Pertahankan pencucian tangan yang benar. Rasional : untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi.
Intervensi: Ajarkan anak bila, bila mungkin, tindakan perlindungan seperti pencucian tangan setalah mengunakan toilet. Rasional : untuk mencegah penyebaran infeksi dan mencegah komplikasi.
Intervensi: Pemberian terapi sesuai program dokter. Rasional : mempertahan kerja sama dengan team kesehatan lain untuk mencegah komplikasi.
Intervensi: Kaji abdomen untuk adanya distensi, nyeri tekan dan adanya bising usus. Rasional : untuk mengkaji adanya tidak nya peristaltic usus.
e.    Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : pengetahuan klien dan orang tua klien bertambah dengan adanya informasi.
Kriteria hasil : keluarga akan menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan, mengidentifikasi situasi stres dan tindakan khusus untuk menerimanya dan berpartisipasi dalam program pengobatan serta melakukan perubahan pola hidup tertentu.
Intervensi: Beri penjelasan pada orang tua klien tentang penyakit anaknya. Rasional : Meningkatkan pengetahuan orang tua klien tentang penyakit anaknya.
Intervensi: Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan. Rasional : Mempermudah pelksanaan intervensi.
Intervensi: Jelaskan tindakan untuk mencegah komplikasi. Rasional : Mencegah keparahan penyakit.
Intervensi: Beri kesempatan pada orang tua untuk mengungkapkan perasaannya. Rasional : Mendengarkan keluhan orang tua agar merasa lega dan merasa diperhatikan sehingga beban yang dirasakan berkurang.
Intervensi: Libatkan orang tua klien dalam rencana keperawatan terhadap anaknya. Rasional : Keterlibatan orang tua dalam perawatan anaknya dapat mengurangi kecemasan.

4.    Implementasi
Menurut Carpenito (2009). komponen implementasi dalam proses keperawatan mencakup penerapan ketrampilan yang diperlukan untuk mengimplentasikan intervensi keperawatan. Ketrempilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk implementasi biasanya berfokus pada: Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien. Melakukan pengkajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru atau memantau status masalah yang telah ada  Memberi pendidikan kesehatan untuk membantu klien mendapatkan pengetahuan yang baru tentang kesehatannya atau penatalaksanaan gangguan. Membantu klien membuat keptusan tentang layanan kesehatannya sendiri. Berkonsultasi dan membuat rujukan pada profesi kesehatan lainnya untuk mendapatkan pengarahan yang tepat. Memberi tindakan yang spesifik untuk menghilangkan, mengurangi, atau menyelesaikan masalah kesehatan. Membantu klien melakukan aktivitasnya sendiri Membantu klien mengidentifikasi risiko atau masalah dan menggali pilihan yang tersedia. 

5.    Evaluasi
Menurut Asmadi  (2008) Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.  Jika hasil evaluasi menunjukkan tercapainya tujuan dan criteria hasil, klien bisa keluar dari siklus proses keperawatan. Jika sebalinya, kajian ulang (reassessment). Secara umum, evaluasi ditunjukkan untuk : Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Menetukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum. Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatab belum tercapai.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "ASKEP DEMAM TIFOID"

Post a Comment